Kevin Wu

~ Pemilik 3 Perusahaan di Usia 28 Tahun.
~ Managing Director CoreACTION result consulting.
~ Wakil Ketua Komite Tetap KADIN Indonesia.
~ Ketua Kompartemen BPD HIPMI Jaya.
~ Wakil Ketua Umum SIDDHI
~ Penulis Buku Best Seller “QI: Quality Implementation”.
~ Penulis Tetap Kolom MANAGERIAL SKILL di Majalah MARKETING, PERSONAL POWER di Majalah GATRA, KARIR di portal berita ternama VIVANEWS.COM
~ Facebook.com/YesEverythingIsPossible
~ Twitter.com/kevinWu_WOW
~ http://www.KevinWOW.com

Semua orang ingin berhasil dan hidup bahagia.
Tidak terkecuali Anda dan Saya,
Oleh karenanya banyak orang yang rela bekerja keras dan membanting tulang demi pencapaian tersebut. Banyak hal mereka korbankan termasuk waktu untuk keluarga dan anak-anaknya.
Akan tetapi masih banyak orang yang walaupun telah berjuang keras dan berkorban seperti itu masih belum membuahkan hasil dan belum mencapai harapannya, alhasil mereka akan menurunkan daya juangnya dan berujung pada jurang kegagalan karena menyerah.
Sama dengan para sahabat saya dalam tulisan ini. Mereka adalah orang-orang yang berangkat dari tempat paling dasar dan para pekerja keras. Akan tetapi yang sangat berharga adalah bagaimana kita mempelajari strategi dan kiat-kiat praktis mereka dalam menggapi puncak kesuksesannya hingga hari ini.
Kisah kesuksesan mereka bukan untuk dielu-elukan, namun untuk dipetik pembelajarannya dan dipraktekkan dalam kehidupan kita, niscaya akan membawa manfaat. Karena apa yang terlukis dalam tulisan ini bukanlah teori semata melainkan buah dari keringat, air mata dan praktek disiplin yang telah mereka lalui. Selamat menikmati.
Alkisah…
Saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Merupakan anak ke-3 dari lima bersaudara. Papa berprofesi sebagai supir angkutan barang lintas propinsi yang hanya pulang ke rumah sebulan sekali, sedangkan Mama menerima jahitan ala-kadarnya di rumah.
Masa kecil saya jalani dengan penuh liku dan perjuangan, yang sangat berbeda dengan anak-anak seusia saya. Misalkan saja, di usia Sekolah Dasar (SD) untuk pergi ke sekolah saya dan kakak sudah harus berjalan kaki beberapa kilometer setiap hari tanpa diantar maupun dijemput oleh kedua orang tua. Saya juga masih ingat betul untuk membantu biaya
rumah tangga, di hari pertama bersekolah (Kelas 1 SD), saya sudah harus berjualan di dalam kelas.
Di usia 10 sampai 12 tahun saya meraih kehidupan yang “sedikit lebih baik”. Papa dan Mama mendapatkan sebuah lapak (tempat berjualan) berukuran kurang lebih 1×2 meter di sebuah pasar tradisional. Ini adalah berkat bantuan dari Adik Mama yang prihatin melihat penghidupan keluarga kami. Kami sangat bersemangat dan antusias atas usaha baru tersebut.
Kami memilih berjualan kue dan jajanan pasar di lahan sempit itu. Konsekwensinya seluruh keluarga disibukkan dengan aktivitas rutin sejak jam 3 pagi disaat anak-anak seusia kami masih tertidur lelap. Tugas Papa adalah mengambil kue titipan dari pabrik-pabrik sebelum jam 3 pagi dengan motor vespa tuanya. Sedangkan Mama di rumah mempersiapkan singkong dan bumbu secukupnya untuk membuat getuk. Dan tugas saya dan kakak adalah menggiling singkong olahan Mama dengan memutar alat giling yang besar tuasnya hampir sama dengan lengan kecil kami. Juga memarut kelapa yang kadang-kadang duri tajamnya melukai jari cilik kami.
Usaha ini juga membuat saya dan kakak ikut menjajakan kue setiap hari setelah pulang sekolah dengan bersepeda mengelilingi daerah perumahan tempat kami tinggal di saat teman-teman yang lain sedang les atau tidur siang.
Di usia 13 tahun, saya kembali mengalami “perbaikan nasib” ketika Papa dan Mama mendapatkan sebidang lahan untuk berjualan makanan siap saji di pinggir jalan atau yang lebih sering disebut pedagang kaki lima. Bagi kami usaha ini mendatangkan lebih banyak penghasilan daripada berjualan kue di pagi hari. Oleh karena itu kami semua sangat antusias dibuatnya. Sebagai anak, kami semua mendapatkan tugas menjadi pelayan dan pencuci piring. Menjadi pelayan adalah pekerjaan yang sangat menantang, kami dituntut untuk cekatan dan harus tetap ramah apapun kondisi suasana hati di dalam diri.
Mencuci piring adalah salah satu pekerjaan yang sangat menyiksa bagi saya yang kala itu masih kanak-kanak. Kami harus membersihkan sisa-sisa makanan, duduk atau jongkok di lingkungan yang becek dan berbau, bersentuhan langsung dengan benda-benda berminyak yang menempel di
sekujur tubuh, menyikat bagian kotor sekuat tenaga, kadang kala harus mencuci ulang jika Mama mendapati hasil cucian kurang bersih, dan masih banyak penderitaan lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Anda jangan membayangkan kami hanya mencuci 1 atau 2 lusin piring saja. Kira-kira saya yang kala itu masih di kelas 6 SD harus mencuci 5 sampai 8 kali jumlah seluruh perabotan dapur rata-rata sebuah rumah tangga. Sering saya menangis ketika mendapat jatah mencuci ini. Di awal usaha kaki lima ini juga, sering saya dan kakak ikut menarik gerobak hingga pukul 4 dini hari.
Profesi ini terus saya lakoni hingga di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa, saya tidak hanya dituntut berprestasi di kelas, namun setiap jam 4 sore saya harus pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk berjualan hingga jam 10 malam dan tiba sampai rumah sekitar jam 11 malam, setiap hari walaupun ujian.
Karena status ekonomi dan sosial seperti ini sering teman sekolah memandang rendah saya dan keluarga. Pernah pula saya ditolak oleh wanita pujaan hati setelah keluarga wanita mengetahui latar belakang saya seperti ini. Kehidupan serba keras yang dijalani ini tidak lantas membuat saya dan keluarga berkecil hati. Saya selalu memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti saya pasti akan menjadi orang sukses.
Waktu terus berlalu dan kini di usia yang baru beranjak 30 tahunan ini, saya telah memiliki beberapa perusahaan impian, saya pun memimpin beberapa organisasi sosial, saya juga aktif berkeliling kota dan berbicara di berbagai forum serta seminar, saya gemar menuangkan ide dan gagasannya secara rutin di beberapa media massa, saya juga suami serta ayah dari 3 orang anak yang luar biasa, saya adalah Kevin Wu.
Melalui buku ini, saya tidak bertujuan membuat Anda terkesan melalui kisah hidup yang telah saya lalui tersebut. saya hanya ingin membagikan harapan dan pembelajaran yang pernah saya dapatkan, Harapan bahwa seorang pemuda yang dengan segala keterbatasan dapat meraih semua impiannya di kemudian hari.
Kunci keberhasilan Saya adalah berpikir “serba mungkin”.
Saya menyaksikan sebagian besar orang gagal karena berpikir “serba tidak mungkin” sebelum memulai segala sesuatu, akibatnya upaya dan hasil yang diperolehnya akan jauh dari kata optimal.
Jika Saya bisa, Anda juga pasti bisa, karena “Everything is Possible”